Tinjauan tentang Lactose Broth dan EMBA

Lactose broth digunakan untuk menumbuhkan Salmonella dan bakteri koliform dari makanan, air, dan hasil ternak. Reaksi enzimatis gelatin dan ekstrak sapi memberikan sumber karbon dan nitrogen untuk pertumbuhan bakteri pada lactose broth. Laktosa adalah karbohidrat. Fermentasi laktosa dibuktikan dengan timbulnya gas (1).

Komposisi yang dibutuhkan antara lain peptone 5 gr/L, ekstrak daging (sapi) 3 gr/L, laktosa 5 gr/L. campurkan 13 gr atau lebih dalam 1 L air, didihkan 1 menit, tuangkan dalam tabung reaksi yang berisi tabung durham, autoklaf 15 menit pada suhu 121oC. pHnya 6,9 ± 0,2 pada 25oC. Lactose broth ini akan berwarna kekuningan dan jernih. Dengan menggunakan medium ini, Escherichia coli dan Klebsiella pneumonia bisa tumbuh baik dan memproduksi gas, Salmonella typhimurium tumbuh baik namun tidak memproduksi gas, sedangkan Proteus vulgaris tidak tumbuh dengan baik dan tidak memproduksi gas (2).

Kultur mikroba memberi respon dalam Lactose Broth pada suhu 35oC setelah inkubasi 18-48 jam. Enterococcus faecalis dan Pseudomonas aeruginosa bisa tumbuh baik pada medium ini namun tidak memproduksi gas (1).

EMB Agar adalah medium pembeda yang dipakai dalam identifikasi dan isolasi bakteri batang enterik Gram-negatif. EMB Agar juga menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif. Pembeda dalam media ini terletak pada eosin dan metilen blue, yang membedakan pemfermentasi laktosa dan pemfermentasi non-laktosa. Pemfermentasi laktosa berwarna gelap di dalam dan bening di pinggirnya sedangkan pemfermentasi non-laktosa tidak berwarna (3).

Sumber:

1.      Anonymous. 2004. Lactose Broth.

2.      EMD. 2002. Lactose Broth.

3.      DPALM MEDIC. 1995. Eosin Methylene Blue (EMB) Agar.

Tinjauan tentang Koliform

Koliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indicator adanya polusi kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu, dan produk-produk susu. Koliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri berbentuk batang, gram negatif, tidak membentuk spora, aerob dan anaerob fakultatif yang memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35oC. adanya bakteri koliform di dalam makanan/minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang bersifat enteropatogenik dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan. Bakteri koliform dapat dibedakan menjadi 2 grup yaitu: (1) koliform fekal misalnya Escherichia coli dan (2) koliform non fekal misalnya Enterobacter aerogenes.

Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, sedangkan Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau tanaman-tanaman yang sudah mati. Jadi, adanya Escherichia coli dalam air minum menunjukkan bahwa air minum itu pernah terkontaminasi feses manusia dan mungkin dapat mengandung pathogen usus. Oleh karena itu, standar air minum mensyaratkan Escherichia coli harus nol dalam 100 ml. untuk mengetahui jumlah koliform di dalam sampel digunakan metode Most Probable Number (MPN), pemeriksaan kehadiran bakteri koli dari air dilakukan berdasarkan penggunaan medium lactose broth yang ditempatkan di dalam tabung reaksi berisi tabung Durham (tabung kecil yang letaknya terbaik, digunakan untuk menangkap gas yang terjadi akibat fermentasi laktosa menjadi asam dan gas).

Sumber:

Widiyanti, Ni Luh Putu Manik dan Ni Putu Ristianti. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform pada Depo Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali.

Tinjauan tentang MPN

Metode MPN (Most Probable Number) adalah metode yang digunakan untuk menghitung koliform di dalam air dengan menggunakan pengujian fermentasi dalam tabung. Tiga pengujian itu diantaranya adalah uji penduga (Presumtive Test), uji penguat (Confirmed Test), dan uji pelengkap (Completed Test) (1).

Uji Penduga (Presumptive Test) : satu seri yang berisi 9 atau 12 tabung yang berisi Lactose Broth dan tabung Durham diinokulasikan dengan sampel air untuk menguji apakah air tersebut mengandung bakteri yang bisa memfermentasikan laktosa yang memproduksi gas. Jika setelah inkubasi gas timbul pada Lactose Broth, diduga ada bakteri koliform di sampel air tersebut (2).

Uji penduga merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri koliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa, dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung Durham berupa gelembung udara. Dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung Durham. Banyaknya kandungan bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuknya asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam sampel yang berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 35oC.jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung Durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri, MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN (3).

Hasil uji penduga dilanjutkan dengan uji penguat. Dari tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi diinokulasikan pada media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA) secara aseptic dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah kehijauan dengan kilap metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok koliform lainnya (3).

Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji pelengkap untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji penguat diinokulasikan ke dalam medium Lactose Broth dan medium agar miring Nutrient Agar (NA), dengan jarum inokulasi secara aseptic. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada Lactose Broth, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan Gram dimana bakteri Escherichia coli merupakan Gram negatif berbentuk batang pendek. Untuk membedakan bakteri golongan koli dari bakteri golongan koli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah panas), pekerjaan dibuat duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 37oC (untuk golongan koli) dan satu seri diinkubasi pada suhu 42oC (untuk golongan koli fekal), bakteri golongan koli tidak dapat tumbuh baik pada suhu 42oC, sedangkan golongan koli fekal dapat tumbuh dengan baik pada suhu 42oC (3).

Sumber:

1.      CAWST. 2005. Most Probable Number.

2.      Anonymous. 2006. Presumptive Test.

3.      Widiyanti, Ni Luh Putu Manik dan Ni Putu Ristianti. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform pada Depo Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali.

Lactobacillus casei

Lactobacillus casei adalah bakteri Gram-positif, anaerob, tidak memiliki alat gerak, tidak menghasilkan spora, berbentuk batang dan menjadi salah satu bakteri yang berperan penting. Lactobacillus adalah bakteri yang bisa memecah protein, karbohidrat, dan lemak dalam makanan, dan menolong penyerapan elemen penting dan nutrisi seperti mineral, asam amino, dan vitamin yang dibutuhkan manusia dan hewan untuk bertahan hidup (Damika, 2006).

Bakteri ini berukuran 0,7 – 1,1 x 2,0 – 4,0 µm dan merupakan bakteri yang penting dalam pembentukan asam laktat. Seperti bakteri asam laktat lain, Lactobacillus casei toleran terhadap asam, tidak bisa mensintesis perfirin, dan melakukan fermentasi dengan asam laktat sebagai metabolit akhir yang utama. Bakteri ini membentuk gerombolan dan merupakan bagian dari spesies heterofermentatif fakultatif, dimana bakteri ini memproduksi asam laktat dari gula heksosa dengan jalur Emblen-Meyerlhof dan dari pentose dengan jalur 6-fosfoglukonat, fosfoketolase. pertumbuhan Lactobacillus casei pada suhu 15oC, dan membutuhkan riboflavin, asam folat, kalsium pantotenat, dan faktor pertumbuhan lain. Lactobacillus casei adalah spesies yang mudah beradaptasi, dan bisa diisolasi dari produk ternak segar dan fermentasi, produk pangan segar dan fermentasi. Dari segi industrial, Lactobacillus casei mempunyai peran dalam probiotik manusia, kultur starter pemroduksi asam untuk fermentasi susu, dan kultur khas untuk intensifikasi dan akselerasi perkembangan rasa dalam varietas keju yang dibubuhi bakteri (Anonymous, 2004).

Sumber :

Anonymous. 2004. Lactobacillus casei.

Damika. 2006. Lactobacillus casei.

Escherichia coli

Temperatur adalah salah satu faktor pertumbuhan bakteri. Suhu optimum bagi Escherichia coli adalah 37oC (Atlas, 1995). Escherichia coli adalah bakteri berbentuk batang, anaerob fakultatif (dapat melakukan fermentasi ketika tidak ada oksigen, dan bisa melakukan respirasi selular secara aerob bila ada oksigen. Abedon, 1998), Gram-negatif, dan non-spora. Bakteri ini memfermentasi laktosa. Bakteri ini juga katalase positif, oksidase-negatif, dan indol positif. Mereka bisa tumbuh pada kisaran suhu 7-46oC dan dapat tumbuh pada aktivitas air minimum 0,95 (Meat & Livestock Australia, 2006).

Escherichia coli dalam klasifikasi ilmiahnya memiliki domain Bacteria, filum Proteobacteria, kelas Gamma Proteobacteria, ordo Enterobacteriales, family Enterobacteriaceae, genus Escherichia dan spesies Escherichia coli. Bakteri ini tergolong mampu hidup pada hewan berdarah panas. Bakteri ini tergolong fekal. Bakteri yang tergolong koliform ini bersifat aerob dan anaerob fakultatif, tida menghasilkan spora, Gram negative, berbentuk batang, memfermentasi laktosa dengan memproduksi gas selama 48 jam pada suhu 35oC (Anonymous, 2006d).

Sel Escherichia coli memiliki diameter 0,5 µm dan panjangnya 1,5 µm. Escherichia coli adalah Gram-negatif dan sel prokariotik. Hal ini didasarkan pada keberadaan membran luar yang tidak bisa mengikat saat pengecatan Gram dan tiadanya keberadaan nukleus (Anonymous, 2002).

Sumber:

Abedon, Stephen T. 1998. Non Nutrient Factors Affecting Growth

Anonymous, 2002. Introduction to Biochemistry.

Anonymous, 2006d. Escherichia coli.

Atlas, Ronald M. 1995. Principles of Microbiology. St. Louis, MO: Mosby-Year Book.

Meat & Livestock Australia, 2006. Escherichia coli.

Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus tumbuh optimal pada keadaan aerob tapi bisa tumbuh juga secara anaerob. Suhu optimumnya 37oC, dengan kisaran 6-48oC. pertumbuhannya bisa dinaikkan di bawah 44oC dengan penambahan NaCl, monosodium glutamate (MSG) dan sari kedelai (Anonymous, 2006a).

Staphylococcus aureus dapat tumbuh pada kisaran suhu 15-45oC dan pada konsentrasi NaCl sampai 15%. Karakteristik penting dari Staphylococcus aureus (Todar, 2005):

-      Gram positif, bentuknya bergerombol

-      Tidak memiliki alat gerak, tidak menghasilkan spora, anaerob fakultatif

-      Fermentasi glukosa dan menghasilkan asam laktat

-      Fermentasi mannitol

-      Katalase positif

-      Koagulasi positif

-      Membentuk koloni berwarna kuning keemasan pada agar

-      Pathogen

Staphylococcus aureus adalah bakteri, sering ditemukan di kulit atau di hidung, yang dapat menyebabkan penyakit mulai dari infeksi kulit ringan (seperti bisul) sampai penyakit berat seperti pneumonia, meningitis, endocarditis dan septicemia. Staphylococcus aureus adalah coccus Gram-positif yang terlihat seperti gerombolan berbentuk anggur saat dilihat dengan mikroskop dan sering dengan beta-hemolysis, yang tumbuh pada blood agar plate. Staphylococcus aureus adalah katalase positif sehingga bisa memecah H2O2 menjadi H2O dan O2, dan juga koagulasi positif, dimana Staphylococcus spesies lain koagulasi-negatif (Anonymous, 2006b).

Staphylococcus aureus adalah kokus anaerobic fakultatif Gram-positif, katalase positif dan oksidase negatif. Di bawah mikroskop bakteri ini terlihat seperti gerombolan anggur. Staphylococcus aureus tumbuh lambat bila ada mikroorganisme lain yang tumbuh. Bakteri ini bisa ditemukan di udara, debu, air, dan kotoran manusia. Mereka bisa tumbuh pada temperatur dengan rentang 6-46oC. Staphylococcus aureus sensitif terhadap panas (Meat & Livestock Australia, 2006).

Sumber:

Anonymous, 2006a. Staphylococcus aureus.

Anonymous, 2006b. Staphylococcus aureus.

Meat & Livestock Australia, 2006. S.aureus.

Todar, Kenneth. 2005. Staphylococcus.